DUKUNGAN STANDARDISASI PADA BUDIDAYA TIRAM MUTIARA
Abstract
Perkembangan usaha budidaya mutiara telah mengarah pada kegiatan industri yang terintegrasi. Terdapat 4 proses utama dalam budidaya tiram mutiara yaitu proses pembenihan, pendederan dan pembesaran tiram mutiara, serta proses operasi (penyisipan nucleus). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tahapan budidaya tiram mutiara dan melakukan analisa perlu tidaknya pengembangan SNI untuk tahapan insersi nukleus ke dalam tubuh tiram mutiara. Metode analisa deskriptif berdasarkan data dari 3 pengusaha tiram mutiara yang berada di wilayah Bali, Labuan Bajo dan Manado digunakan untuk mengungkapkan budidaya tiram mutiara serta menganalisa kebutuhan pengembangan standarnya. Penelitian ini menemukan 4 SNI pendukung budidaya tiram mutiara yaitu SNI pendederan tiram mutiara, SNI tiram mutiara induk, SNI tiram mutiara spat dan SNI mutiara. Hasil analisa menunjukkan bahwa pengembangan standar untuk proses operasi atau teknik insersi tidak perlu dilakukan, hal ini dikarenakan faktor kompetensi pelaku insersi dan faktor eksternal (lingkungan) lebih mendominasi terhadap keberhasilan pembentukan mutiara, sehingga kualitas mutiara yang dihasilkan belum tentu seragam meskipun dilakukan dengan teknik insersi yang sama. Penyusunan tatacara dan persyaratan proses insersi tiram mutiara dijadikan dapat pedoman untuk mendukung standardisasi kegiatan budidaya tiram mutiara.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Anggorowati, D, A. (2008). Kematian masal pada usaha budidaya Kerang mutiara. Oseana, Vol. XXXIII, No. 2, Tahun 2008 : 9 - 14
Benediktus. R, et.al (2014). Budidaya tiram mutiara. Universitas Diponegoro
BI. (2004). Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Budidaya Mutiara. Jakarta
BSN. (2013). SNI 7874:2013 Pendederan spat tiram mutiara, Jakarta
------. (2015). SNI 8146.1:2015 Tiram mutiara induk, Jakarta
------. (2015). SNI 8146.2 – 2015 Tiram mutiara spat, Jakarta
------. (2016). SNI 4989 – 2016 Mutiara laut selatan, Jakarta
Fathurrahman & Aunurohim. (2014). Kajian komposisi fitoplankton dan hubungannya dengan lokasi budidaya Kerang mutiara (P. Maxima) di perarian Sekoteng, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Teknik Pomits Vol. 3, No. 2, (2014) : 93 – 98. ISSN: 2337-3539
Gervis&Sims, (1992). The Biology and culture of Pearl Oysters (Bivalvia: Pteriidae). ICLARM Studies and review 21. The Overseas Development. Philippines
Hamzah MS. (2009). Studi pertumbuhan dan kelangsungan hidup anakan kerang mutiara (Pinctada maxima) dengan menggunakan keranjang tento pada kedalaman yang berbeda di teluk Kodek, Lombok Barat. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan ISOI 2008, Bandung : 232-239
Hamzah, M.S. (2013). Daya penempelan kerang mutiaran (pinctada maxima) pada kolektor dengan posisi tebal dan kedalaman berbeda. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 5, No. 1 : 60-68, Juni 2013
Hakim. A. R. (2015). Proses Terjadinya Mutiara Laut. http://originalmutiara.com. Diakses tanggal 18 Oktober 2017
Hariyadi. P., et., al. (2014). Kajian Proses Perumusan Standar dan Peraturan Keamanan Pangan di Indonesia. Jurnal Pangan. Vol 23, No 2 (2014)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). (2016). Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta
Kotta, R. (2018). Teknik pembenihan tiram mutiara (Pinctada maxima). Prosiding Seminar Nasional KSP2K II, 1 (2) : 228 – 244
Makhas, et. al. (2014). Perkembangan mutiara mabé pada pinctada margaritifera di perairan Arakan, Sulawesi utara. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 1 Nomor 1 Tahun 2014: 13 – 18
Mulyanto. (2017). Dukungan Penelitian dan Pengembangan SNI Teknik Insersi Mutiara. Makalah disampaikan di BSN tanggal 6 April 2017
Puslitbang BSN. (2017). Laporan Penelitian Pengembangan Standar Budidaya Tiram Mutiara: Teknik Insersi. Jakarta
Sudewi., et. al., (2010). Pendederan tiram mutiara (pinctada maxima) dengan perbedaan ukuran tebar awal. Prosiding forum inovasi teknologi akuakultur. Hlm: 325-330
Sudewi., et. al., (2010). Pendederan tiram mutiara, pinctada maxima dengan perbedaan kedalaman. Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XII (2): 57-63. ISSN: 0853-6384
Sukadi, M.F. (2002). Peningkatan Teknologi Budidaya Perikanan. Jurnal Iktiologi Indonesia. Vol. 2, No. 2 Tahun 2002: 61-64
Sutaman. (1993). Tiram Mutiara, Teknik Budidaya dan Proses Pembuatan Mutiara. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Trademap. (2017). Trade Statistic for International Bussiness Development. HS7101.www.trademap.org. Diakses terakhir tanggal 18 Oktober 2017.
Taufiq, et. al., (2007). Pertumbuhan Tiram Mutiara (pixctada maxima) pada kepadatan berbeda. Ilmu Kelautan. Maret 2007. Vol. 12 (1): 31 - 38
Taufiq N, Rachmawati D, Cullen J dan Yuwono. (2010). Aplikasi Isochrysis galbana dan Chaetoceros amami serta kombinasinya terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan veliger–spat tiram mutiara (Pinctada maxima). Ilmu Kelautan, 15(3): 119-125.
Winanto.T, S. Pontjoprawiro & M. Murdjani. (1992). Budidaya Mutiara. Balai Budidaya Laut Lampung & FAO/UNDP. INS/81/008.
Winanto T. (2009). Kajian perkembangan larva dan pertumbuhan spat tiram mutiara Pinctada maxima (Jameson) pada kondisi lingkungan pemeliharaan berbeda. Thesis. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor
DOI: http://dx.doi.org/10.31153/js.v20i2.712
Refbacks
- There are currently no refbacks.